Selamat Datang Di Kota Batik Pekalongan.Portal Penulis Pekalongan Dan Sekitarnya.Sahabat Media Juga Dapat Mengirimkan Informasi Sekitar Pekalongan Melalui Email : dhimashr@gmail.com Atau Sms Online Di 0815 480 92192***###########***Swanten Qustique Lagi Nyari Singer Cewe Yang Suka Banget Ma Lagu2nya Nicky Astrea. Yang Merasa Punya Hoby Nge Rock Dengan Bit Bit Slow Silahkan Persiapkan Mental Buat Gabung Bareng Kita Yaaak. Wilayah Comal Bojong Sragi Diutamakan Untuk Mempermudah Jarak Tempuh.SMS Dulu Juga Boleh......

Wednesday, 24 September 2008

Naskah Drama Radio Seri - Antara Dendam Dan Asmara

0 comments

Bagian 02

Demikianlah para pejabat itu. Kalau mereka itu melaksanakan tugas mereka tanpa pamrih kepentingan pribadi, tanpa tujuan untuk mencari keuntungan sebesarnya untuk diri sendiri, kalau tugas itu mereka laksanakan sebagai suatu kewajiban, demi pekerjaan itu sendiri, maka tentu mereka akan mendapatkan hasil yang baik bagi pemerintahan. Akan tetapi kalau semua pejabat melakukan korupsi, manipulasi, menyalah gunakan wewenang dan kekuasaan, menindas yang lemah menjilat yang kuat, menginjak yang bawah menghormat yang atas, maka tentu saja akibatnya pemerintahan menjadi lemah dan buruk.

Ki San sedang melangkah seorang diri, membawa buntalan pakaian dan pedangnya, dan berjalan melamun. Sungai Kuning sudah dekat berada di depan, kurang lebih satu li lagi. Sawah ladang penduduk sudah mulai nampak subur di tepi sungai, akan tetapi suasananya sunyi pada siang hari itu. Padi belum berbuah, maka tidak perlu ditunggui.

Selagi dia melangkah perlahan, dia mendengar suara riuh rendah orang berteriak-teriak di dusun sebelah kiri. Di sana terdapat sebuah dusun petani yang hidupnya mengandalkan hasil pertanian dan mereka hidup sederhana. Maka, sungguh mengherankan di siang hari itu terdengar banyak orang berteriak-teriak. Pasti telah terjadi sesuatu yang luar biasa, pikir Ki San. Dia lalu membelokkan langkahnya menuju ke dusun itu dan perhatiaannya semakin tertarik ketika di antara suara gaduh itu dia mendengar teriakan orang menangis. Wanita menjerit dan tanda-tanda bahwa di sana sedang terjadi tindakan kekerasan. Ki San lalu berlompatan dan berlari cepat memasuki dusun itu dan apa yang dilihatnya membuat darahnya bergolak panas. Segerombolan orang sedang melakukan perampokan di dusun itu. Mereka membawa keluar ayam, kambing dan bahkan menuntun sapi, ada pula yang memanggul wanita-wanita muda yang meronta-ronta dan menjerit-jerit, ada yang sedang memukuli para pria yang agaknya hendak melawan mempertahankan ternak, anak gadis atau isteri mereka.

Dengan beberapa kali loncatan, Ki San sudah tiba di tempat itu dan beberapa kali tangannya menampar dan kakinya menendang. Seorang yang memanggul wanita, melepaskan wanita itu dan dia terpental oleh tendangan kaki Ki San, jatuh berdebuk dan bergulingan. Seorang lagi penculik wanita, tiba-tiba ditampar kepalanya sehingga terpelanting jatuh dan tidak mampu bangkit kembali.

Dua orang yang sedang memukuli seorang penduduk ditangkap oleh Ki San pada rambut kepalanya, dijambak dan kedua kepala itu lalu diadu sehingga keduanya roboh dengan kepalanya terasa retak.

Para perampok yang melihat munculnya pemuda asing ini menjadi marah sekali. mereka mencabut golok dan belasan orang itu lalu mengeroyok Ki San dari segala jurusan. Golok mereka berkelebatan menyambar ke arah tubuh Ki San dengan kemarahan meluap karena mereka menganggap pemuda ini sebagai penghalang. Namun Ki San tidak menjadi gentar. Dia melihat bahwa para perampok itu hanyalah orang-orang kasar yang mengandalkan tenaga melakukan kekerasan, namun tidak ada di antara mereka yang memiliki ilmu silat yang berarti. Oleh karena itu, dia menghadapi belasan orng itu dengan tangan kosong saja, tidak mencabut pedangnya karena diapun tidak ingin membunuh orang.

Begitu orang-orang itu menyerbu, Ki San menggunakan keringanan tubuhnya, bergerak dengan jurus Kong-jiu-jip-pek-to (Tangan Kosong Menyerbu Ratusan Golok). Terdengar teriakan-teriakan para perampok disusul golok mereka beterbangan dan merekapun terpelanting ke kanan kiri. Kemudian Ki San menggunakan ilmu tendangan Siauw-cu-twi (Tendangan Berantai) dan dalam waktu beberapa menit saja, semua perampok telah jatuh bangun. Mereka menjadi gentar sekali dan begitu dapat merangkak bangun, mereka lalu melarikan diri meninggalkan semua barang rampasannya, lari tunggang langgang tanpa menoleh lagi.

Melihat ini, penduduk dusun, dipimpin oleh kepala dusun, menjatuhkan diri berlutut menghadap Ki San untuk menghaturkan terima kasih. Akan tetapi Ki San hanya berkata, "Mulai sekarang, saudara sekalian haruslah bersatu padu, mempersiapkan senjata dan kalau ada datang gerombolan perampok, jangan takut akan tetapi keroyoklah. Bukankah jumlah saudara sekalian jauh lebih besar dari jumlah mereka? Kalau kalian bersatu dan melawan, tidak ada gerombolan perampok yang akan berani mengganggu."

"Terima kasih, taihiap. Kami memang belum apa-apa sudah merasa ketakutan. Mulai hari ini, kami akan siap siaga melakukan perang terhadap semua perampok yang berani mengganggu dusun kami, dan kami akan mengadakan latihan ilmu berkelahi!"

"Bagus, modal utama untuk menjaga diri adalah keberanian dan semangat. Nah, selamat menjaga kampung sendiri!" Ki San lalu berkelebat lenyap dari depan orang-orang itu. Dan benar saja, sepeninggal Ki San, kepala dusun itu segera memanggil orang yang mengerti ilmu silat dari kota, menyuruh semua warganya mempelajari ilmu silat walaupun tidak terlalu banyak, dan melakukan penjagaan ketat sehingga tidak ada lagi perampok berani mencobacoba untuk mengganggu dusun itu.

Akan tetapi urusan itu tidak habis di situ saja bagi Ki San. Kepala perampok yang dihajar babak belur itu merasa penasaran dan sakit hati sekalo. Dia lalu menghubungi rekannya yang menjadi bajak di sepanjang Sungai Huang-ho daerah itu, dan dengan berbohong dia melaporkan bahwa ada seorang pemuda yang membawa uang banyak, akan tetapi pemuda itu lihai sekali. Mereka lalu bersekongkol untuk menjebak dan membajak pemuda itu kalau nanti melakukan penyeberangan.

Menjelang sore hari, benar saja muncul Ki san di tepi sungai dan dia mencari-cari tukang perahu untuk membawanya ke seberang sungai. Selagi dia celingukan ke kanan kiri, datang sebuah perahu kecil yang ditumpangi seorang tukang perahu yang membawa jala. Seorang nelayan rupanya.

"Heii, paman tukang perahu, maukah engkau menyeberangkan aku ke seberang sana? Berapa biayanya akan kubayar."

"Menyeberang? Tentu saja kalau bayarannya cukup memadai karena tadinya aku hendak menjala ikan, orang muda," kata nelayan setengah tua itu.

"Jangan khawatir, aku akan membayarmu cukup seperti yang kauminta. Pinggirkan perahumu, paman."

Tukang perahu mendayung perahunya ke tepi dan Ki San lalu melangkah ke dalam perahu. Perahu didayung ke tengah. "Mudah-mudahan kita akan sampai ke sana sebelum malam tiba, paman."

"Tentu dapat, orang muda, jangan khawatir."

Bagian dari sungai itu sunyi dan tidak nampak perahu lain. Akan tetapi ketika perahu tiba di tengah sungai, dari kanan kiri mendatangi belasan buah perahu dengan orang-orang berpakaian hitam dan nampak bengis, setiap perahu ditumpangi dua orang dan perahu-perahu itu sengaja mengepung dan menghadang perahu yang ditumpangi Ki San.

"Siapakah mereka, paman?" tanya Ki San sambil mengerutkan alisnya.

"Celaka, orang muda, mereka adalah bajak-bajak sungai," kata nelayan setengah tua itu.

"Jangan takut, aku akan melawan mereka!" kata Ki San.

Di atas sebuah di antara perahu-perahu itu, seorang laki-laki tinggi besar dan brewokan berdiri di kepala perahu dan orang itu menudingkan golok besarnya ke arah Ki San.

"Orang muda, kalau ingin selamat, tingglkan buntalan dan semua barang milikmu!"

"Kalian ini bajak-bajak yang ngawur saja," kata Ki San dengan tenang. "Aku tidak mempunyai apa-apa, buntalan ini hanya berisi pakaian yang tidak berharga. Jangan menggangguku dan biarkan perahu ini lewat!"

"Orang muda sombong, berani engkau membantah perintahku! Rampas barang-barangnya!"

Empat orang bajak melompat ke ats perahu kecil yang ditumpangi Ki San. Namun Ki San menyambar mereka dengan tendangan dan tamparan yang membuat ke empatnya roboh terpelanting ke dalam air. Bajak-bajak dari perahu lain menggunakan tombak panjang untuk menyerang dari kanan kiri. Karena serangan itu berbahaya sekali baginya, Ki San lalu mencabut pedangnya dan setiap kali dia menangkis dengan pedangnya, ujung tombak atau dayung yang dipergunakan mereka untuk menyerangnya, patah-patah! Hal ini mengejutkan para bajak laut, dan baru mereka mendapatkan kenyataan betapa keterangan rekan perampok mereka itu benar adanya. Pemuda ini lihai sekali.

Akan tetapi, tukang perahu yang tadinya nampak ketakutan, mendadak membungkuk dan mencabut kayu yang dipakai menyambat perahunya yang bocor berlubang, lalu diapun melompat ke dalam air. Kiranya tukang perahu atau nelayan itu hanyalah nelayan palsu, karena diapun sebenarnya anggauta bajak yang memang sengaja bertugas sebagai umpan. Perahunya adalah perahu yang sudah dilubangi dan disumbat dengan kayu. Maka ketika penyumbatnya dicabut oleh tukang perahu itu, air lalu dengan derasnya masuk ke dalam perahu. Ki San yang sedang menangkisi tomobak-tombak yang menyerangnya, tidak tahu akan perbuatan si tukang perahu. Setelah tukang peahu itu meloncat ke dalam air dan dia melihat perahu bocor, barulah dia tahu. Sekali ini Ki San tidak dapat bersikap tenang lagi. Dia tidak begitu pandai berenang dan perahunya bocor, terancam tenggelam.

Biarpun demikian, Ki San masih melawan terus dan perahu sudah tenggelam sampai di pahanya. Dia bertekad melawan terus sampai napas terakhir.

Akan tetapi, pada saat itu, datang meluncur sebuah perahu lain yang ditumpangi seorang gadis berpakaian merah muda. Begitu memasuki daerah pertempuran itu, gadis ini sudah menggunakan pedangnya mengamuk dan menyerang para bajak, lalu mendekati perahu Ki San. Gerakan pedangnya cukup hebat sehingga banyak perahu bajak yang terpaksa mundur.

"Cepat melompat ke perahuku ini!" kata gadis itu yang melihat betapa tubuh Ki San sudah hampir tenggelam. Ki San tidak dapat melompat, lalu meraihkant tangannya ke perahu itu, berhasil memegang tepi perahu dan sekali mengayun tubuhnya dia sudah berada di perahu si gadis.

Gadis itu mendayung perahunya menjauh, akan tetapi tiba-tiba perahunya terguncang. Tahulah dia bahwa para bajak lalu menggunakan kepandaian mereka di dalam air dan dengan menyelam dan berenang mereka hendak menggulingkan perahunya! Dia lalu bangkit berdiri dan dayungnya menghantam ke kanan kiri, mengenai tangan-tangan yang memegangi perahunya dari bawah.

"Plak-plak-desss...!" bajak-bajak itu menjadi kesakitan dan gadis itu berkata kepada Ki San.

"Bantu aku, gunakan pedangmu dan serang tangan-tangan mereka!"

Akan tetapi Ki San tidak tega untuk membuntungi lengan orang. Dia melihat perahu dan dayungnya terapung menelungkup di atas air maka dia meraih dayungnya dan dengan dayung itu dia kini menjaga sambil berdiri di perahu. Setiap kali ada kepala atau tangan tersembul dekat perahu, segera dihantamnya dengan dayung. Gadis itu kini dapat mendayung perahunya menjauh dan tak lama kemudian perahu telah dapat sampai ke tepi sungai. Keduanya meloncat ke darat dan siap melawan dengan pedang mereka. Akan tetapi, para bajak laut itu agaknya menjadi jerih dan merekapun memutar perahu mereka dan meninggalkan tempat itu.

Bersambung ……..!!

Media

Tuesday, 23 September 2008

Merayakan Kembali Kemerdekaan Imajinasi Dengan Sandiwara Radio

1 comments
Sandiwara Radio
Radio menyediakan dunia imajinasi tanpa batas, sebuah kekuatan dan keunikan yang tidak dimiliki oleh media lain. Pendengar bebas mengimajinasikan dunia visual dalam kepalanya. Tidak salah kalau dikatakan radio adalah theater of mind. Melalui suara yang dipancarkannya, radio mampu menjadikan benak para pendengar seolah-olah layar perak yang luas tanpa batas.

Kejayaan Sandiwara Radio: Era 1980-anContoh paling nyata mengenai kekuatan dan keunikan radio terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1938. Saat itu tak kurang dari sejuta warga AS mendengarkan sebuah sandiwara radio berjudul “War of The Worlds” karya Orson Wales dan John Houseman. Sebuah berita mengejutkan tiba-tiba muncul di tengah sandiwara radio ini. Dengan model penyampaian bergaya laporan pandangan mata, ditambah dengan efek suara yang dahsyat, sandiwara ini telah berhasil meyakinkan warga Amerika Serikat bahwa telah terjadi invasi makhluk Mars ke bumi. Akibatnya, kepanikan melanda jutaan warga Amerika. Padahal berita tersebut hanyalah bagian dari adegan dalam sandiwara radio.

Di Indonesia, sandiwara radio meraih popularitas yang sangat besar pada era tahun 1980-an. Booming sandiwara radio dipelopori oleh “Saur Sepuh”, sebuah kisah yang ditulis oleh Niki Kosasih. Nama-nama seperti Ferry Fadly, Eli Ermawati dan Ivonne Rose merupakan nama yang akrab di telinga pendengar saat itu. Merekalah para pengisi suara tokoh Brama kumbara, Mantili dan Lasmini dari Kerajaan Madangkara. Pendengar radio seperti tersihir mendengarkan desing pedang dan ciat-ciat jurus sakti dalam pertarungan Mantili atau rayuan maut Lasmini, tanpa perlu menilik apakah benar kerajaan Madangkara itu pernah ada dalam peta Indonesia. Keberhasilan Saur Sepuh diikuti oleh sandiwara lain seperti Tutur Tinular, Misteri Dari Gunung Merapi, dan sebagainya. Tak hanya sandiwara berlatar kerajaan dengan genre persilatan, sandiwara dengan genre drama pun turut meramaikan indra dengar masyarakat pada masa itu. “Ibuku sayang, Ibuku Malang” karya Eddy Suhendro dan “Catatan Si Boy” adalah beberapa judul sandiwara radio dengan genre drama.

Tak ketinggalan, pemerintah turut memproduksi sandiwara radio yang sarat dengan nilai-nilai versi pemerintah. Sandiwara berjudul “Butir-butir Pasir Di Laut” adalah sandiwara yang mempunyai jam tayang sangat panjang, hingga ribuan episode. Tema ceritanya adalah penanaman nilai-nilai kelluarga kecil bahagia sejahtera, mengingat drama ini disponsori oleh BKKBN. Saur Sepuh, Tutur Tinular, Ibuku Sayang, Ibuku Malang atau Butir-Butir Pasir Di Laut hanyalah sedikit dari sekian banyak sandiwara radio yang populer pada masa itu. Sandiwara-sandiwara itu diproduksi oleh sanggar cerita dan diputar di berbagai radio di seluruh Indonesia. Kepopuleran sandiwara radio menginspirasi stasiun radio lokal untuk memproduksi sandiwara radionya sendiri dengan cerita dan karakter yang disesuaikan dengan konteks masyarakat pendengarnya.

Popularitas sandiwara radio perlahan hilang ditelan maraknya televisi swasta dan media audio visual lainnya. Ruang-ruang keluarga pun dipenuhi dengan suguhan audio visual, dalam bentuk sinetron, film atau media visual lainnya. Tayangan audio visual yang disuguhkan melalui layar kaca itu telah membelenggu imajinasi pemirsanya. Maka tak heran ketika beberapa sandiwara radio diangkat ke layar kaca maupun layar lebar, penonton merasakan kekecewaan yang mendalam karena apa yang mereka lihat tak seperti yang mereka bayangkan.

Pelangi diatas Glagah Wangi: Obat rindu
“Mpu Janardana berdiri tegak menghadapi musuh-musuhnya. Kuda-kudanya siap menghalau segala kemungkinan. Di sisinya, Endang Kusumadewi terlihat gagah memegang pedang. Matanya melirik ke kanan ke kiri….” Sandiwara itu berjudul “Pelangi di atas Glagah Wangi”. Sambil mendengarkan sang pembawa cerita, Asdi Suhastra menarasikan keadaan dalam sandiwara itu, benak saya mengembara. Imajinasi saya bergerak bebas, membayangkan sosok Mpu Janardana, jejaka tua yang tampan dengan kepiawaiannya bersilat. Saya membayangkan kecantikan Endang Kusumadewi yang trampil memainkan jurus Pengracut Sukma. Saya menyaksikan cerita itu dengan telinga kepala saya. Hmmm.. sebuah kerinduan telah sedikit terobati.

Usut punya usut, rupanya sandiwara radio yang baru saja saya dengarkan itu didukung oleh PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Sandiwara yang terdiri dari 90 episode dengan durasi 30 menit ini diproduksi untuk mengisi kembali tradisi mendengar sandiwara radio. Produksi sandiwara dikerjakan Rumah Produksi Cut 2 Cut dan disiarkan mulai 6 Agustus hingga 11 Desember 2007 melalui 70 radio jaringan KBR-68H di Pulau Jawa. Di yogyakarta, sandiwara ini bisa didengarkan di Radio Global FM 107,6 Mhz (Bantul), Radio PTDI Medari FM 90,7 Mhz (Sleman) dan Radio Suara Pasar FM 106,5 Mhz (Kulon Progo).

Kisah ”Pelangi di Atas Glagah Wangi” diambil dari cerita Babad Tanah Jawi, yakni sejarah naiknya kerajaan Demak dan ambruknya Majapahit. Meski begitu sandiwara ini mengetengahkan beragam persoalan yang relevan dengan suasana kekinian. Para tokoh utama dalam sandiwara ini antara lain Mpu Janardana, Endang Kusumadewi, Resi Wiyasa dan Rake Hambulu. Secara keseluruhan, Pelangi di Atas Glagah Wangi meramu cerita cinta, kesetiaan, keteguhan sikap, pengorbanan dan perjuangan. Cerita ini mengalir mengisi detik-detik habisnya era kerajaan Syiwa-Budha dan hadirnya Islam di tanah air. Kehadiran Pelangi diatas Glagah Wangi di ruang dengar saya, ibarat sebuah oase yang menawarkan rasa haus para musafir. Saya sangat menikmati kedigdayaan Mpu Janardana, kenakalan Endang Kusumadewi atau sikap patuh Woro Kembangsore. Meski demikian, ada beberapa hal yang saya rasakan berbeda dengan sandiwara-sandiwara radio yang pernah saya dengar. Menurut saya dialog yang diucapkan oleh para karakter dalam sandiwara ini sangat kaku dan terlalu panjang. Para pemain terdengar sangat sulit untuk berimprovisasi dengan dialog yang panjang, bahkan sesekali saya mendengar mereka seperti kehabisan napas. Mungkin karena dialog yang kepanjangan, saya juga tidak ‘merasakan’ sifat tokoh dalam sandiwara itu. Saya baru bisa memahami sifat Endang Kusumadewi setelah Mpu Janardana mengatakannya. Sebagai karakter yang bersifat nakal, lucu dan cantik, saya merasa kesulitan untuk mencari sifat-sifat itu dalam suara Endang Kusumadewi.

Hal lain yang menurut saya penting untuk dicermati adalah dari sisi cerita. Cerita dalam Pelangi diatas Glagahwangi secara garis besar adalah perjalanan Mpu Janardana yang baru saja memeluk agama Islam dan mendampingi Raden Patah mendirikan kerajaan Demak Bintoro. Meski sudah disampaikan oleh pembawa cerita di setiap awal cerita, saya merasa kurang banyak mendapatkan gambaran tentang latar belakang kejadian. Menurut saya, visualisasi imajinasi melalui efek suara atau dialog tentang konteks masyarakat saat itu, sangat terbatas. Mengingat sifat radio yang hanya selintas dengar, mungkin ada baiknya jika keadaan masyarakat saat itu digambarkan secara lebih intens.

Masa Depan Sandiwara Radio: konvergensi teknologi untuk kemerdekaan imajinasi

Meski memiliki beberapa kelemahan menurut telinga saya, namun saya sangat menghargai inisiasi ini. Sandiwara radio bagi saya adalah sebuah bentuk upaya melepaskan diri dari belenggu media audio visual, khususnya televisi. Ketika dunia imajinasi dibatasi oleh latar, wajah artis, pakaian bahkan gerak gerik yang serba diatur oleh sutradara, saat itulah belenggu seeing is believing tercipta. Ketika Saur Sepuh diangkat ke layar lebar, kami rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiketnya. Sayangnya, versi layar lebar Saur Sepuh tidaklah sebagus versi radio.

Saya merasa optimis bahwa masa depan sandiwara radio masih terbentang luas. Kemajuan teknologi memungkinkan beragam efek suara dimasukkan kedalam sebuah sandiwara radio. Efek suara juga memungkinkan hal-hal yang mustahil divisualkan ketika produsen dibatasi oleh dana yang mepet. Selain itu proses mixing elemen-elemen pembantu dalam sandiwara radio juga dapat dilakukan dengan halus. Kemajuan teknologi juga memungkinkan produksi sandiwara radio dengan biaya yang relatif terjangkau. Ini artinya siapa saja bisa memproduksi sandiwaranya sendiri. Cerita dan karakter bisa disesuaikan dengan pendengar dan konteks masyarakat saat ini.

Distribusi sandiwara radio kini tidak hanya terbatas pada media radio saja. Fenomena pemutar suara digital yang dipicu oleh kesuksesan Apple iPod telah membuka peluang yang sangat besar untuk memproduksi dan mendistribusikan sandiwara radio. Ditambah lagi dengan adanya teknologi podcasting sehingga sandiwara radio bisa dipancarluaskan melalui internet.
Jadi, siapa bilang sandiwara radio sudah mati?

*Penulis adalah Relawan Radio Angkringan FM 107,85 Mhz, Radio Komunitas warga Desa Timbulharjo Sewon Bantul. Media

Sunday, 21 September 2008

Naskah Drama Radio Seri - Antara Dendam Dan Asmara

0 comments

Bagian 01

Pagi yang cerah. Matahari baru muncul di balik bukit, menyinarkan cahayanya di permukaan bumi mengusir kabut pagi dan menggugah semua mahkluk dari kelelapan selimutan malam. Embun pagi berkilauan di ujung-ujung daun dan rumput, burung-burung berlompatan dari dahan ke dahan sambil berbunyi saling sautan, siap untuk menunaikan tugas mereka seharihari, yaitu mencari makan. Kelinci-kelincipun bersama dengan tikus dan binatang lain, keluar dari sarang mereka dan memulai hari itu dengan mengendus-endus dan mencari-cari makanan, baik untuk perut sendiri maupun untuk perut si kecil di dalam sarang. Semua makhluk, dari binatang terkecil sampai kepada manusia, bersiap-siap melaksanakan satu tugas yang sama dalam kehidupan ini, yaitu mencari makan! Tugas utama bagi kelangsungan hidup di dunia ini. Bekerja! Hidup tanpa bekerja sama dengan mati, karena bekerja itu pada hakekatnya merupakan kebaktian dan penyembahan kepada Tuhan Maha Pencipta. Tuhan Maha Pencipta sendiri dengan kekuasaanNya, tidak pernah berhenti bekerja. Bahkan kehidupan inipun berisikan hasil dari tugas pekerjaan yang dilaksanakan dengan sempurna. Pertumbuhan setiap makhluk itu hasil pekerjaan, berdetiknya jantung setiap saat itu hasil pekerjaan, keluar masuknya pernapasan juga hasil pekerjaan. Segala sesuatu bekerja, dan itulah kehidupan! Masing-masing dari kita, bahkan masing-masing dari anggauta tubuh kita, semua memiliki tugas tertentu dan harus dilaksanakan dengan baik. Kalau kurang baik pelaksanaan sebagian saja dari tubuh kita, maka kita akan jatuh sakit.

Hutan itu sunyi dari manusia, walaupun ramai dengan binatang yang mulai sibuk. Dari semut yang paling rajin sampai dengan binatang besar yang lamban dan nampak bermalas-malasan. Akan tetapi, kesunyian itu tidak terasa oleh seorang pemuda yang juga sedang bekerja mencari kayu bakar. Kadang dia memunguti kayu kering yang sudah tanggal dari pohonnya, kadang dia melompat ke atas dan merenggut putus sebuah dahan pohon. Dari gerakannya melompat ke atas dan merenggut putus dahan-dahan itu, dapat terlihat betapa pemuda itu memiliki gerakan yang tangkas dan ringan sekali, juga renggutan tangannya amat kuat sehingga sekali renggut saja, dahan itu patah.

Musim kering belum tua benar, tidak banyak dahan kering yang sudah tanggal dari pohonnya, maka terpaksa dia mencari dahan basah untuk kemudian dijemur dan dijadikan kayu bakar. Setelah mengumpulkan sejumlah yang cukup banyak, pemuda itu berhenti bekerja, lalu dia mulai berlatih silat di bawah sebatang pohon besar.

Pemuda itu berusia sekitar dua puluh dua tahun, wajahnya sederhana seperti pakaiannnya, namun bentuk wajah itu tampan dan gagah. Sepasang alisnya berbentuk golok, dan sepasang matanya mencorong sepeti mata rajawali, hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan semangat yang besar namun juga keramahan hati karena bibirnya selalu mengarah senyum. Dagunya agak berlekuk, menunjukkan kekerasan yang terkandung di hati, kekerasan kemauan yang tidak mudah ditundukkan. Pakaiannya dari kain kasar berwarna biru dan sepatunya dari kulit hitam. Di punggungnya nampak sebatang pedang. Tubuhnya sedang saja namun tegap dan berisi.

Pemuda ini bernama Song Ki San, seorang pemuda yang tinggal bersama gurunya di tepi hutan yang sunyi. Guru dan murid ini tinggal menyendiri, jauh dari tetangga, dan agaknya memang sang guru sedang bertapa atau menyepi, tidak suka hidup dalam masyarakat. Segala kebutuhan hidup mereka dipenuhi oleh pekerjaan pemuda itu. Untuk membeli lain keperluan, pemuda itu kadang menjual hasil buruannya atau menjual rempah-rempah yang dicarinya ke dalam hutan kepada penghuni dusun-dusun di sekitar daerah itu.

Ki San terus berlatih silat. Gerakannya cepat dan mengandung tenaga. Dari setiap gerakan tangannya timbul angin pukulan yang menggoyang daun-daun pohon di sekitarnya. Setelah bersilat dengan gaya yang indah dan mantap, dia lalu meloncat dan mencabut pedangnya. Nampak sinar berkelebat ketika dia mencabut pedang, menunjukkan bahwa pedang itu terbuat dari baja yang baik sekali. Kemudian dia bersilat pedang. Sayang di situ tidak terdapat orang lain yang menonton ilmu silat pedangnya itu. Kalau ada orang menonton, orang itu tentu akan kagum dibuatnya. Mula-mula pedang itu bergerak dengan gerakan yang mantap dan ingah, menusuk ke sana, menangkis ke sini, membacok ke sana dan setiap gerakannya mendatangkan suara berdesing nyaring. Kemudian makin lama pedang itu digerakkan semakin cepat sehingga akhirnya pedang dan orang tidak nampak lagi. Yang nampak hanya gulungan sinar pedang yang membungkus tubuh pemuda itu sehingga yang nampak hanya kadang kedua kakinya saja berloncatan ke sana sini. Sinar pedangnya bergulung-gulung abgaikan seekor naga bermain di angkasa, di antara awan dan mega.

"Ki San...!" sayup-sayup terdengar suara memanggil namanya. Dia sedang asyik bermain pedang dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada setiap gerakan. Namun karena pendengarannya sudah terlatih baik sekali, dia dapat menangkap suara panggilan sayup-sayup itu dan diapun menghentikan permainan pedangnya, menyimpan di punggungnya dan menghampiri tumpukan kayu bakar yang tadi sudah diikatnya, memanggul di pundaknya dan diapun berlari-lari menuju ke arah suara yang tadi memanggilnya.

"Ki San...!" suara itu memanggil dari dalam pondok. Ki San melempar tumpukan kayu bakar ke atas tanah lalu berlari memasuki pondoknya. Suara gurunya demikian lemah. Memang sudah sejak sepekan ini gurunya yang akhir-akhir ini lemah berpenyakitan, hanya rebah di pembaringan tidak mampu turun karena menderita sakit.

"Suhu...!" Ki San memasuki kamar suhunya, dan duduk di tepi pembaringan, memandang suhunya yang terengah-engah, napasnya satu-satu. "Suhu, kau kenapakah?"

"Ki San..., penyakitku kambuh hebat... aku... aku tidak kuat lagi..." kata orang tua yang berusia sekitar enam puluh tahun itu.

"Suhu, apakah suhu sudah minum obat yang tadi kusediakan?" tanyanya dengan bingung.

"Sudah, tidak ada gunanya... luka lama kambuh kembali. Dengar Ki San, engkau belum tahu, aku dahulu adalah seorang panglima yang memimpin perang dan terluka parah dalam perang, nyaris tewas. Luka itu sembuh akan tetapi sering kali kumat. Dahulu sebatang tombak memasuki perutku, ahh..."

"Suhu, tenanglah. Tidak baik banyak bicara, suhu perlu beristirahat."

"Tidak, kau harus mendengar segalanya selagi... selagi aku masih kuat bicara. Dengar, Ki San, aku mempunyai sebuah ganjalan hati... aku mempunyai seorang musuh besar. Maukah engkau mewakili aku dan membunuh musuhku itu?"

Ki San terkejut. "Akan tetapi, suhu. Berulang kali suhu melarang teecu (aku) membenci dan mendendam, apa lagi membunuh orang karena dendam!"

"Memang benar, akan tetapi dengarlah... orang itu... dia telah merampas satu-satunya orang yang kucinta, merenggut wanita yang menjadi isteriku itu dari tanganku. Aku... tidak akan dapat mati dengan mata terpejam sebelum dapat membunuhnya...! maukah engkau melakukan untuk aku...?"

Ki San mengerutkan alisnya. Perbuatan orang itu keterlaluan sekali. Merampas isteri suhunya? "Siapa orang itu, suhu?"

"Namanya Kwan Ciu Ek dan tinggal di Wi-keng di selatan Sungai Kuning. Dia... dia dahulu adalah sahabat baikku... akan tetapi berhati-hatilah, dia memiliki ilmu kepandaian yang lihai. Karena itulah maka aku menurunkan semua kepandaianku kepadamu, Ki San, dan aku yakin sekarang engkau akan mampu mengalahkannya..."

Melihat muridnya diam saja, orang tua itu lalu berusaha untuk bangkit, akan tetapi dia tidak kuat dan cepat Ki San menopangnya.

"Ki San, berjanjilah bahwa engkau akan mencarinya dan membalaskan sakit hatiku."

"Baiklah, suhu. Aku berjanji!"

Baru orang itu kelihatan lega dan dia tertidur kembali. Muridnya menjaganya dan berusaha memberinya obat, akan tetapi semua itu sia-sia belaka karena dua hari kemudian orang tua itu meninggal dunia dan pesannya yang terakhir adalah penekanan agar murid itu mau membalaskan dendamnya terhadap orang yang bernama Kwan Ciu Ek.

Ki San menangisi kematian gurunya. Dia adalah seorang anak yatim piatu, ayah ibunya juga meninggal dunia ketika terjadi perang. Dalam pengungsian, ayah ibunya bertemu gerombolan penjahat dan merekapun dirampok dan dibunuh. Dia sendiri sempat melarikan diri dan terlunta-lunta sampai dia ditemukan gurunya dan diajak pergi. Sejak itu, sejak berusia dua belas tahun, dia ikut gurunya dan dia menganggap gurunya sebagai pengganti kedua orang tuanya. Dia digembleng ilmu silat dan ilmu membaca menulis oleh gurunya yang amat menyayangnya. Maka, kini kematian gurunya membuatnya merasa kehilangan segala-galanya dan dia menangis sedih di dalam makam gurunya yang berada di belakang pondok dan dibuat secara sederhana sekali. Karena dia tidak bertetangga, maka dia menguburkan jenazah gurunya secara diam-diam seorang diri pula sambil menangis.

Kenapa kematian seseorang selalu ditangisi? Untuk apa dan untuk siapakah orang menangisi kematian seseorang? Untuk siapakah kedukaan karena kematian itu? Tanpa kita sadari, sebetulnya kesedihan itu adalah untuk diri sendiri. Bukan untuk si mati. Tidak mungkin kita menyedihkan si mati karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan si mati. Kita bersedih melihat orang sakit atau orang terhukum karena iba melihat penderitaannya. Akan tetapi mati? Kita tidak tahu apakah yang mati itu akan menderita ataukah tidak, maka semua tangis itu sebetulnya terjadi karena iba diri, karena kita merasa kasihan kepada diri kita sendiri. Kita ditinggal orang yang kita kasihi, kita merasa kehilangan, kesepian, karena itulah kita menangis! Bukan karena yang mati.

Kalau Ki San teringat kepada yang mati, sepatutnya dia bersukur tidak menangis. Bersukur karena orang yang dicintanya itu setidaknya telah terbebas dari pada rasa sakit. Tidak, diapun tidak menangisi yang mati, melainkan menangis karena merasa ditinggalkan dan merasa betapa kini dia hidup sebatang kara di dunia ini.

Akan tetapi Ki San segera dapat menghentikan tangisnya. Dia memang memiliki kekerasan hati sehingga dia tidak membiarkan diri berlarut-larut dicekam duka. Gurunya sudah mati, sudah habis. Karena itu, dia harus melanjutkan seorang diri, dan dia bahkan ditinggali sebuah tugas oleh gurunya. Membalas dendam! Sejak kecil gurunya sudah mengajarkan agar hatinya jangan dikacau dendam kebencian, akan tetapi sekali ini lain lagi. Dia harus melaksanakan pembalasan dendam itu, setidaknya untuk membalas budi suhunya yang bertumpuk-tumpuk. Dia akan pergi mencari Kwan Ciu Ek dan akan dibunuhnya orang yang telah merampas isteri suhunya itu. Ki kota Wi-keng, di seberang selatang Huang-ho, itulah tempat tujuan perjalanannya.

Pada masa itu pemerintahan amatlah lemahnya. Kaisar agaknya kurang memperhatikan jalannya pemerintahan dan hanya berenang di dalam kesenangan dan foya-foya sehingga para pejabat berkiprah seenaknya tanpa ada yang mengawasi. Mereka melakukan korupsi besarbesaran dan tidak memperhatikan pemerintahan, hanya mementingkan diri pribadi belaka. Semua tugas yang harus mereka lakukan, mereka kerjakan dengan tujuan kepentingan pribadi, maka tentu saja terjadi penyelewengan-penyelewengan dan korupsi. Rakyatlah yang menderita, bukan hanya menderita dari para pejabat, akan tetapi juga menderita dengan tumbuhnya banyak gerombolan penjahat yang seolah tidak ada yang mengawasi atau menghalangi.

Perbuatan apapun di dunia ini selalu dikerjakan orang dengan pamrih, dengan tujuan. Pada hal, yang penting bukanlah tujuannya, melainkan caranya. Tujuan hanyalah khayal belaka, hanyalah keinginan tercapainya sesuatu. Akan tetapi cara adalah keadaan yang sebenarnya, cara adalah apa yang kita kerjakan. Kalau caranya baik, maka akhirnya juga tentu benar. Sebaliknya, betapapun mulia tujuannya, kalau cara melaksanakannya tidak baik dan tidak benar, maka tujuan akhir itu juga tidak benar. Banyak orang memakai cara yang salah untuk melakukan suatu tujuan dengan dalih tujuan yang mulia, yang benar. Akan tetapi hal itu tidak mungkin terjadi. Cara yang kotor tentu menghasilkan tujuan akhir yang kotor pula. Hidup ini adalah cara demi cara, saat demi saat, apa yang kita lakukan sekarang ini, bukan apa yang akan menjadi hasil perbuatan yang kita lakukan sekarang. Yang terpenting, kita melakukan segala sesuatu sebaik mungkin, tanpa pamrih demi kepentingan pribadi. Berhasil atau tidaknya, terserah karena kita tidak kuasa untuk menentukan hasil suatu pekerjaan. Bersambung………….!!

Media

Pasang Iklan Gratis